ajazu ajdaru ’ajibta ’ajibtum ’ajibu ajibu ’ajibun ajida ajidanna ajidu ’ajilata ’ajiltu ’ajiltum ajinnatun ajirhu ’ajjala ’ajjalna ajjalta ’ajjil ajlib ajlin ajma’ina ajma’u ajma’una ajmi’u ajnihatin H ajra ajraha ajraha ajrahum ajramna ajramu ajran ajri ajriya ajru ajruhu ajruhum ajsamuhum ’ajulan ’ajuzan
LaluMusa a.s mula membaca Injil, Barihah berkata:Al-Masih telah membaca sedemikian dan bacaan ini tidak dibaca melainkan oleh al-Masih a.s. Kemudian Barihah berkata: Aku telah mencarinya selama lima puluh tahun, lalu beliau menerima Islam di tangannya[1]. Muhammad bin al-Husain bin Abu al-Khattab, daripada Ahmad bin al-Hasan al-Maithami
mempertahankanhidup atau la yamutu wala yahya diplesetkan menjadi kurang bermutu dan perlu biaya (agar lebih bermutu dan tidak mati). Namun demikian, madrasah bagi sebagian masyarakat Indonesia tetap memiliki daya tarik. Hal ini dibuktikan dari adanya peningkatan jumlah siswa madrasah dari tahun ke tahun rata-rata sebesar 4,3 % sehingga
disebutoleh slogan “La yahya wala yamutu”, hidup enggan mati tak mau, tidak berdaya dan tidak bermutu, sebagai cermin keadaan yang memprihatinkan secara berkesinambungan.3 Upaya Peningkatan mutu pendidikan, merupakan tema yang sudah sejak lama dibicarakan oleh para pelaku pembangunan di bidang pendidikan, tetapi
Lembagaini dibiarkan berada dalam keadaan kalau meminjam konstatasi Prof. DR. Bustanul Arifin, S.H. seperti kerakap tumbuh di batu, la yahya wala yamutu, wujuduhu kaadamihi, hidup segan mati tak mau, adanya sama dengan tiada.
Tatacara shalat tarawih 20 rakaat sendiri dikerjakan 2 rakaat demi rakaat, ditutup dengan 3 witir dalam formasi -2-2-2-2-2-2-2-1. Dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah, Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi menyebutkan shalat tarawih hukumnya sunnah. Cara mengerjakan shalat tarawih sama seperti shalat lain, demikian pula semua bacaan shalat
. Bagian 5 La Yamutu Wala Yahya Asmo Dio Pamuji yang biasa dipanggil Pam… Di sakuku ini tercantel kalau pakai diksi “tergantung” agak aneh pena merah putih pemberiannya dua hari lalu. Aku tak mengerti kenapa harus merah putih. Merah, warna favoritnya, dan putih, warna yang paling tidak aku sukai. Masa’ iya pena ini melambangkan bendera kebangsaan Indonesia? Tapi tak masalah. Aku mengagumi pena darinya selayaknya aku kagumi dirinya. Mungkinkah pena ini yang dia pakai untuk menulis surat beraksara Arab tanpa tanda baca yang mana aku bisa membacanya sementara dia heran tak percaya bagaimana aku bisa membaca suku kata demi suku kata suratnya itu? Lalu kotak ini? Kotak ini semestinya berisi dua pena. Kenapa hanya satu yang dia hadiahkan? Dia kemanakan pena satunya? Disimpan? Pena couple, ya? Aku bahkan tak menyangka isi kado kecil yang dia bungkus dengan kertas payung adalah sebuah pena. Yang aku sangkakan aku mungkin mendapat tempat di hatinya. Boleh saja kan, aku berprasangka demikian? Jika tidak ada tempat buatku di hatinya, mengapa pena ini dia berikan untukku dengan cara sespesial itu? Pam yang parfumnya bau bedak bayi dan kadang-kadang bau kopi… Malam ini kutulis surel untuknya. Surel darinya kemarin itu baru kubaca. [Pam] Lintang, gimana penanya enak nggak dipake? [Lintang] Alkhamdulillah, syukran Pam, lumayan enak dipake. Tadi juga tak pake buat nulis agenda surat masuk di kantor. Suka sama penanya. Heheh. [Pam] Lintang, jangan sampai hilang, ya. Dijaga baik-baik. [Lintang] Iya, insya Allah ya, Pam. ^^ Ngomong-ngomong Pam lagi apa? [Pam] Habis baca koran. Lintang udah baca belum? [Lintang] Wah…malem gini baca koran? Aku baca korannya pagi..hehe. [Pam] Koran itu maksudnya Quran in English. Lintang kalo belum rajin baca koran, kepalanya jilbaban dulu gih..kayak Ismi tu lho..He..he…he.. [Lintang] Kamu kenapa sih nyuruh-nyuruh aku pake jilbab terus? Aku tuh belum pengen berhijab. Lagian ngapain kamu ngurusin aku? Pake banding-bandingin sama Ismi segala!! Toh aku juga bukan siapa-siapamu. Bukan calon istrimu juga. Lagian kamu kan pengen nikah sama perempuan yang belum pernah pacaran. Sana nikahin Ismi dan ga usah ngatur-ngatur aku! Dua tanduk muncul di kepalaku. Kombinasi antara marah dan kesal berkecamuk di dalam dada. Bukan aku tidak terima diberi nasihat untuk berhijab, aku hanya benar-benar tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan perempuan lain. Bukan tidak suka, lebih tepatnya cemburu. Ismi lagi, Ismi lagi. Perempuan itu tampaknya begitu sempurna di mata Pam. Selalu diagungkan. Selalu dipuji. Sudah hafal empat juz Al Quran, katanya. Berhijab syar’i dan berakhlak karimah, katanya. Lemah lembut, keibuan, dan bisa menjaga pandangan, katanya. Juga cantik, juga manis, katanya. Sampai detik ini aku bahkan belum tahu sosok Ismi seperti apa. Aku berusaha mencari fotonya lewat akun media sosialnya, tapi tak ada satupun foto yang diunggah. [Pam] La yamutu wala yahya. Pam membalas lagi surelku yang berisi omelan tadi. [Lintang] Apa itu? [Pam] La yamutu wala yahya tidak bermutu menghabiskan biaya. Buat apa aku berdebat sama kamu. Aku cuma berusaha ngasih saran, tapi responmu begitu. Dibilangin marah. Dikasih tau, nggak terima. Malah nyambungnya ke calon istri segala. Ngasih nasehat itu nggak cuma ke keluarga atau pasangan. Siapapun bisa saling menasehati. Kan itu sudah jelas perintah agama, bukan perintahku. Kok nggak terima. Kalo gitu kan mendingan aku tidur. Sayang sama waktuku. Sudah ya, kholas. Selepas membalas surelku itu, Pam offline. Aku tak tahu apa dia benar-benar tidur. Yang jelas surel terakhirnya membuatku merasa kftisqinndnaaqjpigbfcxdj, tak terdefinisi. Pam, mengertilah.. Aku hanya cemburu. Maaf, aku hanya cemburu. Bukankah yang paling egois dari cinta adalah rasa cemburu? Pam, beritahu aku mana yang nyata, mana yang maya. Jangan membuatku selalu merasa bagai ratu, lalu tiba-tiba menyadari bahwa aku ternyata hanya selir belaka. Mengertilah.. Jika memang pilihanmu bukan aku, pergilah saja meski meninggalkan luka. Setidaknya luka itu tak separah jika kau pergi nanti-nanti. Sampai hatikah kau melihatku memupuk rasa sayangku hingga sesubur ini lalu terinjak-injak dan mati sia-sia? Bersambung…
la yamutu wala yahya